Tampilkan postingan dengan label paris. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label paris. Tampilkan semua postingan

Senin, 26 Mei 2008

Blaise Pascal


Ilmuwan dan filsuf Perancis Blaise Pascal (1623 1662 M) memang sejak kecil sudah menunjukkan bakatnya sebagai ahli matematik yang disegani, pakar dalam bahasa Perancis serta dikenal sebagai filsuf besar yang relijius. [ english ]

Blaise Pascal terlahir di Clermont Ferrand pada 19 June 1623. Ayahnya Etienne Pascal, penasehat kerajaan yang kemudian diangkat sebagai presiden organisasi the Court of Aids di kota Clermont. Ibunya wafat saat ia berusia 3 tahun, meninggalkan ia dan dua saudara perempuannya, Gilberte dan Jacqueline. Pada tahun 1631 keluarganya pindah ke Paris.

Geometer cilik
Sejak usia 12 tahun, ia sudah biasa diajak ayahnya menghadiri perkumpulan diskusi matematik. Ayahnya mengajarinya ilmu bahasa, khususnya bahasa Latin dan Yunani, tapi tidak matematik. Ayahnya sengaja melewatkan pelajaran matematik kepada Pascal semata-mata untuk memancing rasa keingintahuan si anak. Pascal lantas terbiasa berexperimen dengan bentuk-bentuk geometri, serta menemukan rumus-rumus geometri standar dan memberikan nama rumus tersebut dengan namanya sendiri.

Tahun 1640 Pascal sekeluarga pindah ke kota Rouen. Saat itu, ia masih diajari langsung oleh ayahnya, namun Pascal belajar dengan sangat giat bahkan sampai menguras stamina dan kesehatannya sendiri. Jerih payahnya tak sia-sia, akhirnya ia berhasil menemukan teorema Geometri yang menakjubkan.

Kadang-kadang ia menyebut teorema tersebut sebagai "hexagram ajaib” sebuah teorema tentang persamaan persilangan antar garis. Bukan sebuah teorema yang sekedar menghitung keseimbangan bentuk, tapi, lebih mendasar dan penting, yang saat itu sama sekali belum pernah dikembangkan menjadi sebuah cabang ilmu matematik tersendiri – geometri proyeksi. Pascal kemudian menggarapnya jadi sebuah buku, Essay on Conics, yang diselesaikannya sampai tahun 1640, di mana hexagram ajaib menjadi bahasan utama, yang membahas ratusan penghitungan tentang kerucut, juga membahas teorema Apollonius, yang mengagumkan bukan cuma karena usianya yang masih sangat muda saat itu (16 tahun) namun karena penghitungannya juga menyertakan unsure-unsur tangens, dsb.

Menganut Jansenis dan biara Port Royal
Tahun 1646 ayah Pascal mengalami kecelakaan kemudian dirawat di rumah. Beberapa tetangga berkunjung membesuk –kebetulan beberapa diantaranya penganut Jansenist, yang didirikan oleh Cornelis Jansen, seorang professor kelahiran Belanda yang mengajar teologi di Universitas Louvain. Sebuah kepercayaan yang bertentangan dengan ajaran Jesuit. Pascal tampaknya terpengaruh dan menjadi pengikut Jansenists, dan menjadikannya amat menentang ajaran Jesuits. Adiknya, Jacqueline juga berniat ingin masuk biara Jansenist di Port Royal. Ayah Pascal, Etienne Pascal tak menyukai hal ini, kemudian mengajak keluarganya pindah ke Paris, namun setelah ayahnya meninggal pada tahun 1651 Jacqueline bergabung dengan biara Port Royal. Pascal masih sibuk menikmati kehidupan duniawinya --bersama teman-temannya dari kalangan bangsawan-- menghabiskan uang warisan ayahnya. Akhirnya pada tahun 1614, ia sepenuhnya menjadi penganut Jansenisme, dan ia pun memulai kehidupan osteriknya di biara Port Royal.

Provincial Letters
Pada tahun 1655 Antoine Arnauld, seorang penulis kondang mengulas tentang ajaran Jansenisme, yang secara resmi dilarang pemerintah Sorbonne sebagai ajaran bidah, lalu Pascal menjawab tulisan tersebut dengan menulis di media kondang the Provincial Letters dengan menggunakan nama samaran Louis de Montalte, yang bertujuan untuk mempertahankan ajaran Jansenisme. Mereka seolah-olah berpolemik antara dua orang sahabat, mulai dari 13 Januari 1656, hingga 24 Maret 1657. Media the Provincial Letters beroplag ribuan dan beredar ke seluruh pelosok Paris, penganut Jesuits mencoba memancing siapa sebenarnya si penulis tersebut –-dengan cerdiknya malah mengolok-olok mereka yang berusaha mengungkap jati dirinya.

The Pensees
Berita tentang kehidupan pribadi Pascal tak banyak terdengan semenjak ia memasuki kehidupan di Port Royal. Saudara perempuannya, Gilberte melihat dia menjalani kehidupan asketis. Pascal, selain tak terlalu suka melihat adik perempuannya sibuk dengan anak-anaknya, juga sebal dengan pembicaraannnya yang melulu soal urusan perempuan. Mulai 1658 penderitaan sakit kepalanya semakin memuncak, akhirnya meninggal pada 19 Agustus 1662.

Ketika wafat Pascal meninggalkan sebuah karya tulis yang belum selesai perihal teologi, the Pensees, sebuah apologi Kekristenan, sehingga , baru diterbitkan 8 tahun kemudian oleh biara Port Royal dalam bentuk yang tak lengkap dan tak jelas. Sebuah versi terbitan yang lebih otentik pertama kali terbit tahun 1844. Yang mengupas tentang problem besar pemikiran Kristen, tentang kepercayaan yang bertentangan dengan Sebab, Kehendak-bebas, dan Pengetahuan-Awal. Pascal menjelaskan kontradiksi dan problem moral kehidupan, doktrin tentang Kejatuhan (keterusiran dari surga) yang menjadi landasan kepercayaan dan menjadi dasar pembenaran dari doktrin Penebusan.

The Pensees, berbeda dengan Provincial Letters, yang ditulis langsung oleh penulisnya, dengan gaya penulisan, yang tentu saja tidak sesuai, dengan kehebatannya sebagai sosok penulis termashur. The Letters, bagaimanapun juga, telah menempatkan Pascal ke dalam sejarah literatur bersama penulis-penulis besar Perancis. The Pensees terasa seolah ditulis oleh orang lain, yang seolah tak terlalu mementingkan soal agama. Namun demikian, meski berbeda antara keduanya, masing-masing tetap merupakan buku-buku penting dalam sejarah pemikiran keagamaan.

Karya-karya Matematik dan Ilmiah lainnya
Pascal juga menulis tentang hidrostatik, yang menjelaskan eksperi¬mennya menggunakan barometer untuk menjelaskan teorinya tentang Persamaan Benda Cair (Equilibrium of Fluids), yang tak sempat dipublikasikan sampai satu tahun setelah kematiannya. Makalahnya tentang Persamaan Benda Cair mendorong Simion Stevin melakukan analisis tentang paradoks hidrostatik dan dan meluruskan apa yang disebut sebagai hukum terakhir hidrostatik: bahwa benda cair menyalurkan daya tekan secara sama-rata ke semua arah (yang kemudian dikenal sebagai Hukum Pascal). Hukum Pascal dianggap penting karena keterkaitan antara Teori Benda Cair dan Teori Benda Gas, dan tentang Perubahan Bentuk tentang keduanya yang kemudian dikenal dengan Teori Hidrodinamik.

Teori Pascal memberikan pengaruhnya pada teori matematik di saat Pascal memulai kehidupan di Port Royal yang digunakan mengatasi problem penghitungan yang berhubungan dengan kurva dan lingkaran, yang juga harus dikuasai oleh matematikawan modern. Ia banyak menerbitkan teorema yang diajukan sebagai tantangan kepada matematikawan lain untuk dipecahkan, tanpa satupun yang menjawabnya. Jawaban kemudian datang dari John Wallis, Christopher Wren, Christian Huygens, dan kawan-kawan, tanpa hasil yang memuaskan. Pascal akhirnya menerbitkan jawabannya sendiri dengan menggunakan nama samaran Amos DettonviIle (kemudian dikenal dengan anagram Louis de Montalte), kemudian matematikawan sekarang sering juga menyebut dirinya dengan nama ini.

Teori matematik probabilitas menjadi berkembang pertama kali ketika terjadi komunikasi antara Pascal dan Pierre de Fermat yang akhirnya menemukan bahwa kedua teori Pascal dan Matematika Probabilitas memiliki kesamaan meski masing-masingnya tetap berdiri sendiri. Pascal merencanakan menulis makalah tentang itu, namun lagi-lagi cuma cuplikan-cuplikan yang ditinggalkannya, yang diterbitkan setelah kematiannya. Ia tak pernah menulis teori matematik yang panjang lebar berbelit-belit, melainkan tulisan-tulisan pendek yang singkat, jelas, dan abadi. [Pustaka Biografi]

Minggu, 25 Mei 2008

Napoleon Bonaparte


Napoleon Bonaparte (1769 1821) mungkin merupakan sosok yang selalu menimbulkan kontroversi bagi banyak orang. Mereka yang hidup pada jaman itu ataupun setelahnya hampir selalu menghadapi dilemma dalam menilainya: apakah ia seorang yang bengis dan bar-bar yang suka membunuh orang ataukah seorang pemimpin yang selalu mendapat simpati dari pengikutnya? Ia dikabarkan selalu memberi racun tentaranya yang terluka setiap usainya peperangan. Apakah itu disebabkan ia tak peduli kepada mereka atau justru karena ia tak tega melihat mereka menderita dan tak ingin melihat mereka menderita? Konon ia juga selalu membawa bekal sedikit di setiap peperangan dari yang semestinya diperlukan pasukannya. Apakah itu karena ia kejam dan tak punya belas kasih atau justru karena ia seorang yang realistis? Ia mungkin saja berpikir bahwa akan banyak tentara yang mati dalam peperangan sehingga jumlah pasukan berkurang. Mungkin kita akan menemukan jawabannya jika mengetahui lebih banyak tentang dirinya. [ english ]

Napoleon lahir tahun 1769 di pulau Corsica, yang saat itu berada di bawah kekuasaan Perancis. Ia tumbuh semasa Revolusi Perancis ketika paham Liberty, Equality dan Fraternity tengah didengungkan ke seantero Perancis. Ia dikirim ke sekolah militer Perancis dan pada tahun 1789 menjadi staf muda Artileri. Ia dikenal sebagai seorang pemimpin pasukan yang kompeten sejak muda dan telah dipercaya sebagai komandan artileri di Itali tahun 1794. Ketika ia kembali ke Paris pada tahun berikutnya, ia kembali dipercaya sebagai komandan angkatan perang Perancis. Saat itu perlawanan rakyat kepada pemerintahan semakin meningkat, dan semakin berpengaruh, dan Napoleon mengambil peran aktif dalam aksi militer yang akhirnya mengakhiri gerakan revolusi. Pada tahun 1796, Napoleon menikahi Josephine de Beauharnais. Seorang janda mantan istri Jenderal Alexandre de Beauharnais yang tewas dalam perang Itali tahun 1794. Hubungan dan pengaruh yang dimiliki Josephine dengan pihak-pihak pemerintahan agaknya banyak membantu Napoleon menjadi komandan angkatan perang Perancis, sewaktu menyerang Itali tahun 1796.

Napoleon mulai menyusun rencana untuk menginvasi Italia diawali dengan menaklukan kota Piedmont di utara Itali. Lalu ia menaklukan kota Nicea dan Savoy. Kemudian menundukkan Milan dan mengalahkan pasukan Austria. Tahun 1797, Perancis telah menaklukan hamper seluruh Itali utara. Dari Itali Napoleon kemudian menuju Vienna dan memaksa Austria menyerah. Sebuah perjanjian antara Austria dan Perancis ditanda-tangani, dimana Perancis diberi hak untuk menguasai pulau Ionian, sebagai imbalannya, Venesia diserahkan kepada Austria.

Ketika Napoleon kembali ke Perancis, ditemuinya pemerintahan tengah mengalami kesulitan. Namun ketika dimintai bantuannya, Napoleon justru mengorganisir kudeta, dan mengakhiri krisis politik yang tengah berkecamuk. Bagaimanapun, popularitas Napoleon sebagai seorang Jenderal besar mengkhawatirkan orang-orang pemerintahan. Mereka menginginkan ia keluar dari wilayah Perancis. Karena itu ia mendapat perintah untuk menginvasi Inggris. Maka Napoleon memutuskan untuk menyerang Inggris dimulai dari wilayah Mediterania dan berlabuh di Alexandria tahun 1798. Angkatan Laut Inggris, yang dikomandani oleh Horatio Nelson, mengalahkan pasukan Perancis pada pertempuran di wilayah Nile. Napoleon terpaksa meninggalkan pasukannya dan menyelamatkan diri kembali ke Perancis. Akhirnya pasukannya menyerah kepada Inggris dan Turki tahun 1801. Itulah kekalahan besar pertama bagi Perancis.

Ketika Napoleon kembali ke Perancis tahun 1799, negeri itu ternyata mengalami banyak peperangan. Rakyat merasa kecewa, pihak pemerintahan dirasakan tidak memuaskan rakyat. Napoleon mengumpulkan para pendukung setianya kemudian mengganti seluruh pihak pemerintahan. Dengan penggantian ini maka dimulailah era baru. Disusunlah Undang-Undang baru, yang memberi kekuasaan kepada tiga orang Konsul. Sebagai militer yang menonjol dan Konsul Pertama, Napoleon praktis menjadi penguasa Perancis yang sesungguhnya. Beberapa tahun kemudian, ia naik menuju puncak kekuasaan. Pada tahun 1802, ia terpilih, sebagai Konsul seumur hidup. Tahun 1804, ia pun menjadi Kaisar. Rakyat Perancis telah bosan mengalami begitu banyak kesulitan dan Undang-Undang yang selalu dibongkar-pasang. Mereka akhirnya menerima Napoleon sebagai diktator sebagaimana ia pun tampaknya siap memberikan mereka Undang-undang dan Peraturan yang paling sesuai yang dibutuhkan.

Sejak awal sebagai Konsul, Napoleon telah membuat banyak perubahan-perubahan penting. Dari itu semua, menyusun Undang-Undang Perancis merupakan hal yang paling utama. Napoleon memahami hal itu demi untuk menciptakan kedamaian dan kesatuan bagi Perancis, persoalan keagamaan juga harus segera ditetapkan. Pemikirannya tentang agama semata-mata adalah demi kepentingan politiknya. Ia membutuhkan dukungan dari kalangan rakyat kebanyakan, yang pada umumnya adalah penganut Katolik Roma, meskipun pada masa revolusi awal pemerintah pernah mencoba menghapus Katolik. Napoleon berpendapat bahwa ia harus membuat perjanjian dengan Paus, dan pada tahun 1801 ia memprakarsai perubahan ini. Paus Pius menyetujui beberapa ketentuan pemerintah dibidang keagamaan – bahwa pengangkatan bishops harus ditentukan oleh Napoleon, dan pendeta gereja wilayah ditunjuk oleh bishop.

Tahun 1804, Napoleon mengundang Paus untuk memasangkan mahkota dalam acara penobatanya sebagai Kaisar di Katedral Notre Dame di Paris. Namun ternyata akhirnya ia memutuskan untuk mengenakan mahkota sendiri pada saat acara dilaksanakan dengan alasan menurutnya di dunia ini tak seorangpun yang layak untuk memasangkan mahkota baginya. Napoleon juga berniat menjadi penguasa Itali. Ketika Paus menentang rencana Napoleon, ia mengambil alih wilayah kekuasaan Kepausan kepada Kekaisaran Perancis dan menahan Paus sebagai tawanan Perancis. Ia menawannya selama lima tahun.

Bagi Napoleon, pendidikan yang paling mendesak adalah melatih para petugas pemerintahan, khususnya angkatan perang. Ia merencanakan suatu sistim pendidikan yang terbagi dalam empat jenjang. Ia tidak lagi menyerahkan masalah pendidikan kepada pihak gereja sebagaimana dilakukan dalam sistim sebelum masa Revolusi. Meskipun rencana sistim pendidikan ala Napoleon tidak sempat dilaksanakan, pada tahun 1813, sistim pendidikan lanjutan Perancis merupakan yang terbaik di Europa.

Napoleon sekali lagi mesti berurusan dengan peperangan. Inggris tidak menaruh percaya kepadanya. Kenyataan bahwa Perancis berencana untuk menguasai Belanda sempat mengkhawatirkan Inggris. Maka pada tahun 1805, Inggris membentuk koalisi untuk melawan Perancis. Koalisi ini terdiri dari Russia, Sweden, Kerajaan Naples dan Austria. Kemarahannya yang timbul ketika ia diserang oleh pers Inggris, menyebabkan Napoleon memutuskan untuk menginvasi Inggris. Tetapi pasukan Perancis malah dikalahkan Inggris dalam Pertempuran Trafalgar. Meski begitu, Napoleon tetap terus memerangi pasukan Austria dan Russia di wilayah Austerlitz. Ia kemudian menaklukan Prussia pada Pertempuran.Jena dan pada bulan berikutnya, June, ia menaklukan pasukan Russia di Pertempuran Friedland.

Untuk mengontrol seluruh Europe, Napoleon mengumpulkan seluruh keluarganya untuk mengatur negeri-negeri taklukannya. Saudara laki-lakinya Joseph menjadi raja di Naples, dan saudaranya yang lain, Louis menjadi raja Belanda. Saudara-tirinya jadi raja German, anak istrinya Josephine dari perkawinan sebelumnya menduduki Kerajaan Viceroy Itali. Tahun 1910, setelah menceraikan Josephine, Napoleon mengawini anak Kaisar Austrian, Marie Louise. Dengannya ia memperoleh anak yang memang sudah lama diidamkannya, yang dikemudian hari menjadi raja Roma.

Disaat kesuksesannya di berbagai medan pertempuran dan kesuksesan mengatur negaranya, kekuasaan Napoleon tampaknya mulai menunjukkan tanda-tanda menurun. Kekuatan militer Inggris tampaknya juga sedang bangkit, namun Napoleon.lengah tentang ini. Sebagian orang tampaknya tidak menyukai Wajib Militer. Pengabaiannya terhadap saudara-saudaranya yang menempati banyak pos-pos penting di pemerintahan serta kebangkitan nasionalisme di berbagai wilayah yang terpisah-pisah menyebabkan Perancis kehilangan kontrolnya untuk memerintah seluruh Europa.

Di Russia, Czar Alexander juga tidak mempercayai Napoleon. Kedua penguasa ini masing-masing ingin melebarkan pengaruhnya di Europa Tengah dan Mediterania. Masing-masing saling mengkhawatirkan satu-sama-lainnya, dan Napoleon memutuskan untuk menyerang duluan. Pada bulan Juni 1812, Napoleon menyerang Russia. Pasukannya yang terdiri lebih dari 600,000 orang terdiri lebih banyak dari orang-orang non-Perancis ketimbang yang keturunan Perancis. Pasukan Rusia terus mendesak, memaksa pasukan Napoleon mengerahkan kekuatannya. Setelah pertempuran yang menguras energi di tepi sungai Moskva, Napoleon memasuki kota Moscow yang ternyata telah dikosongkan. Para Czar menolak menyerah kepadanya dan membakar kota tersebut. Seusai itu Napoleon juga dipaksa menghadapi rintangan yang lebih berat, yakni musim salju Rusia. Tak ada makanan yang ditemui bagi tentaranya dan kuda-kudanya dan banyak tentaranya yang meninggalkan pertempuran. Pasukan Napoleon akhirnya kalah dan ia kembali sendirian ke Paris.

Kekalahan Napoleon di Russia demikian berarti dan membuat musuh-musuhnya bersatu untuk menaklukan Perancis. Ia menyusun pasukannya kembali dan menyerang Germany. Namun pasukan koalisi ternyata lebih kuat dan setelah sempat menang di kota Dresden, Napoleon kalah dalam pertempuran di Leipzig. Namun ia terus melawan pasukan sekutu mempertahankan setiap inchi wilayah Perancis. Hingga akhirnya kalah pada tahun 1814 dan diasingkan ke pulau Elba.

Sepuluh bulan kemudian, Napoleon melarikan diri ke Perancis dan disambut kembali oleh rakyatnya. Ia kembali menyusun pasukan, dengan menggunakan para tawanan perang yang sudah pulang, kemudian menyerang Belgia. Setelah memperoleh beberapa kemenangan, Napoleon akhirnya dikalahkan di Waterloo pada tahun 1815 oleh gabungan pasukan Inggris dan Prusia. Kali ini ia diasingkan ke pulau St. Helena, di wilayah Atlantik. Disanalah ia menulis kisah hidupnya. Napoleon meninggal tahun 1821. Menurut bukti-bukti penemuan, kabarnya ia mati diracuni oleh pengawalnya.

Napoleon Bonaparte adalah pimpinan militer yang tangguh. Ia menyatukan Perancis. Rakyat Perancis mengenalnya sebagai penguasa yang berhasil sepanjang sejarah bangsa Perancis. Ia selalu menghentikan setiap usaha mereka yang ingin kembali kepada orde lama, dan pada saat yang sama, ia tidak menginginkan pemerintahan yang tidak terorganisir dengan baik. Gaya kepemimpinan Napoleonic yang dianut kalangan pemerintahan dari golongan kelas-menengah banyak ditiru oleh negara Eropa lainnya. Hingga hari ini, model Pertahanan, Administrasi, Pendidikan, dan Hukum di Perancis tetap menjalankan model yang telah dibangun oleh Napoleon. [Pustaka Biografi]